Jumat, 16 Oktober 2020

10 Penyebab Doa Tak Kunjung Dikabulkan



Pengantar: Pelaksanaan Shalat Jumat di Masjid Al-Muhajirin RW-10, Antapani Kidul, tanggal 16 Oktober 2020, bertindak sebagai khatib dan imam diisi oleh Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono. Adapun  thema khotbah mengenai 10 Penyebab doa tak kunjung dikabulkan. Berikut petikan khotbahnya.


الحَمْدُ للهِ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلاَلِهِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِهِ، نَحْمَدُ اللهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُو، الخَالِقُ البَارِئُ المُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الحُسْنَى، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَهُوَ العَزِيْزُ الحَكِيْمُ. وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُ. وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَقِيَّةِ الصَّالِحِيْنَ، صَلاَةً وَسَلاَمًا عَدَدَ خَلْقِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ وَرِضَاءَ نَفْسِهِ. أُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، اِتَّقُوْا اللهَ فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ اللهِ، وَصَّى بِهَا الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ. وَذَرُوْا ظَاهِرَ الاِثْمِ وَبَاطِنَهُ. إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْسِبُوْنَ الاِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوْا يَقْتَرِفُوْنَ. بسم الله الرحمن الرحيم، يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ، إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ. وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الفَاسِقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Alhamdulillah, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. yang mana atas rahmat dan izin-Nya jualah, sehingga dapatlah pada hari ini, kembali kita bersama-sama berhimpun di majelis Jum’at yang mulia ini, guna melaksanakan serangkaian ibadah Jum’at di tempat yang mulia ini. Tak lupa pula sholawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita nabi agung Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sang nabi pembawa risalah terbesar di akhir zaman, sang nabi yang telah menuntun umatnya minadz dzulumati ilan nuur.”


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Diantara serangkaian amaliyah penting dalam Islam adalah berdoa. Berdoa, merupakan bagian terpenting dalam ajaran Islam, sehingga dalam bentuk-bentuk kegiatan ritual keagamaan kedudukan dan fungsi doa menempati urutan yang teratas, bahkan dinyatakan:


الدعاءهوالعبادة : 
 “Doa itulah ibadah”.

Mengingat betapa pentingnya doa tersebut, maka setiap bentuk-bentuk ibadah dalam Islam selalu terdapat di dalamnya unsur doa. Seperti shalat umpamanya, banyak sekali di dalamnya unsur doa. Demikian juga dengan bentuk-bentuk ibadah lainnya, seperti puasa, zakat, haji dan bahkan setiap aktivitas kehidupan kita sehari-hari, dari bangun tidur hingga tidur lagi, kita senantiasa dituntun dengan doa demi doa.


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Namun demikian, dalam melaksanakan amaliyah ini terkadang kita menemui dan merasakan bahwa amalan doa yang telah kita lakukan tidak kunjung diterima dan diijabah oleh Allah ta’ala. Sebagai muslim yang beriman tentu saja kita harus melihat hal ini secara jernih dan berdasarkan pada sikap husnudzan kita kepada Allah ta’ala. Sebab, dengan berhusnudzan itulah kita akan lebih mampu menyingkap dan memahami sebab dari tidak atau belum dikabulkannya doa kita tersebut.

Mengenai sebab musabab dari tidak kunjung diterimanya doa kita, para ulama salafunas shalih telah banyak memberikan nasihat pencerahan yang apabila kita cermati ternyata kesemua sebab itu datang dan berawal dari diri kita masing-masing. Salah satunya kisah yang berisi nasihat dari Sayyidi al-Imam Ibrahim bin Adham radhiyallahu ta’ala berikut ini:

Diriwayatkan dari Syakiki al-Balkhi, beliau menuturkan, suatu saat Ibrahim bin Adham berjalan-jalan di pasar Bashra, maka orang-orang pun berkumpul mengerumuni beliau. Mereka kemudian bertanya tentang firman Allah yang berbunyi “Ud’uni astajib lakum”. (Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkan permintaanmu).

Selanjutnya orang-orang itu berkata, “Kami suka berdoa tapi Allah tidak mengabulkan.”
Ibrahim bin Adham kemudian menjawab:

“Wahai penduduk Bashrah, sesungguhnya hati kamu telah mati yang disebabkan oleh beberapa hal. Jadi bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaanmu. 

Adapun 10 perkara yang menyebabkan hati mati, sehingga doa sulit atau tidak dikabulkan Allah Subhanahu Wata.ala adalah sebagai berikut:

Pertama:

عَرَفْتُمُ اللَّهَ وَلَمْ تُؤَدُّوا حَقَّهُ
Kamu mengenal Allah tapi kamu tidak melaksanakan hakNya atau kewajiban yang diperintahkan Allah ta'ala

Kedua:

قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللهِ وَلَمْ تَعْمَلُوْا بِهِ
Kamu suka membaca kitab Allah tapi kamu tidak mengamalkan maknanya.

Ketiga:

اِدَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ اِبْلِيْسَ وَوَالَيْتُمُوْهُ
Kamu mengetahui bahwa iblis itu musuh, tapi kamu mengikuti perintahnya.

Keempat:

اِدَّ عَيْتُمْ حُبَّ الرَّسُوْلِ وَتَرَكْتُمْ اَثَرَهُ وَسُنَّتَهُ
Kamu menyatakan cinta kepada Rasulullah tapi kamu meninggalkan sunahnya atau perbuatannya dan jalan yang ditempuhnya.

Kelima:

اِدَّعَيْتُمْ حُبَّ الجَنَّةِ وَلَمْ تَعْمَلُوْا لَهَا
Kamu menyatakan cinta (ingin masuk surga), tapi kamu tidak mengamalkan amalan ahli surga.

Keenam:

اِدَّ عَيْتُمْ خَوْفَ النَّارِ وَلَمْ تَنْتَهُوْا عَنِ الذُّنُوْبِ
Kamu mengakui takut akan siksa neraka, tapi kamu tidak henti-henti berbuat dosa

Ketujuh:

اِدَّعَيْتُمْ اَنَّ المَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوْالَهُ
Kamu meyakini bahwa kematian itu haq, tapi kamu tidak melakukan persiapan menghadapi kematian.

Kedelapan:

اِشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوْبِ غَيْرِكُمْ وَتَرَكْتُمْ عُيُوْبَ اَنْفُسِكُمْ
Kamu selalu memperhatikan kesalahan (aib) orang lain, tapi kamu tidak mau memperhatikan kesalahan (aib) diri sendiri.

Kesembilan:

تَأْكُلُوْنَ رِزْقَ اللهِ وَلَا تَشْكُرُوْنَ
Kamu suka makan rizki Allah, tapi kamu tidak bersyukur kepadaNya.

Kesepuluh:

تَدْفِنُوْنَ مَوْتَاكُمْ وَلَا تَعْتَبِرُوْنَ بِهِمْ
Kamu suka mengubur/mengantar orang-orang yang mati, tapi kamu tidak mengambil pelajaran darinya


Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Dari nasihat Sayyidi al-Imam Ibrahim Ibn Adham di atas kiranya kita dapat mengetahui dan sekaligus merenungi sebab musabab tidak kunjung dikabulkannya doa kita oleh Allah. Ternyata, dari keseluruhan nasihat tersebut, semuanya berasal dari diri kita sendiri yang banyak kekurangan ini. 

Oleh sebab itu, tidak ada lagi alasan untuk berburuk sangka kepada Allah. N0amun sebaliknya, hal itu seharusnya dapat menjadi bahan untuk bermuhasabah diri, mengoreksi diri sendiri, tentang berbagai kekurangan kita dalam beribadah kepada Allah, yang pada proses selanjutnya diharapkan kita dapat meningkatkan kesadaran serta kedekatan diri kepada Allah dengan sebaik-baiknya. Aamin Aamiin, Allahumma Aamiin.


جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ المُخْلِصِيْنَ. وَ اَدْخِلْنَا وَاِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ المُتَّقِيْنَ الفَائِزِيْنَ. وَاِذَا قُرِئَ القُرْأَنُ فَاسْتَمِعُوْالَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْاَنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِتِلَاوَتِهِ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Sabtu, 19 September 2020

Siapa Makhluk Paling Bahagia? Siapa Paling Sengsara

Serial Mutiara Al-Qur'an (65)
Oleh: KH. E. Sunidja

Untuk menjawab pertanyaan, siapakah makhluk yang paling bahagia, pasti kita masih berpikir dan mencari siapa yang pantas menjadi makhluk yang paling bahagia.

Begitu juga, jika kita ditanya, siapa makhluk yang paling sengsara di alam ini, pasti kita juga masih akan mengira-ngira, siapa makhluk itu.

Pendapat orang berbeda-beda mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Tolak ukurnya pun masih tak jelas. Ada yang berpikir bahwa kebahagiaan itu kalau memiliki harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang luas dan lain sebagainya.

Alhasil jika kita bertanya, apa itu bahagia? pasti akan kita temukan jawaban yang bermacam-macam.

Akan tetapi, jika kita ingin merujuk pada Al-Qur’an maka tolak ukur kebahagiaan adalah seberapa besar seseorang dapat menyerap rahmat Allah swt. Semakin banyak rahmat Allah Swt yang didapat maka ia akan semakin bahagia. Semakin jauh dari rahmat Allah, maka hidupnya akan semakin sengsara.

.Jadi, jika kita bertanya kepada Al-Qur’an siapakah makhluk paling bahagia? Maka jawabannya adalah Nabi Muhammad saw. Karena beliau adalah wujud rahmat itu sendiri. Rahmat Allah yang paling sempurna bagi seluruh alam.

مَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak Mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS.Al-Anbiya’:107)

Dan jika kita bertanya siapakah makhluk yang paling sengsara?Maka jawabannya adalah makhluk yang telah diusir dari rahmat Allah swt. Siapa lagi kalau bukan Iblis yang terkutuk.

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ
وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّين

“Dia (Allah) Berfirman, “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu hingga hari kiamat ” (QS.Al-Hijr:34)

Sekarang kita sudah tau siapa makhluk yang paling berbahagia dan paling sengsara. Lalu pilihan ada ditangan kita, jika ingin bahagia maka dekati dan ikutilah makhluk yang paling bahagia yaitu Rasulullah Muhammad Saw yang menjadi rahmat semesta alam.

Tetapi hati-hati, jika kita masih dekat dan mengikuti rayuan makhluk yang paling sengsara, yaitu iblis, maka bersiaplah untuk merasakan kesengsaraan demi kesengsaraan.

Semoga kita tidak pernah jauh dari baginda Rasulullah saw. Dan senantiasa mencintainya sehingga kita termasuk yang dicintainya untuk memperoleh Rahmat Allah, meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad.

Semoga Bermanfaat 

Kamis, 17 September 2020

Khotbah Jum'at Masjid Al-Muhajirin: "Muhasabah Umur"

Catatan Redaksi: Pelaksanaan Shalat Jum'at tanggal 18 September 2020 di Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul, tetap mengedepankan Protokol Kesehatan. Selain menjaga jarak antar jamaah, juga setiap jamaah diharuskan memakai masker dan membaawa sajadah sendiri. Demikain halnya jamaah yang masuk ke dalam masjid terlebih dahulu dilakukan pengukuran suhu tubuh dan pemberian cairan sanitizer. 

Kali ini yang bertindak sebagai Imam dan Khatib, Ust. Mukhlis Effendi, dalam kapasitas beliau sebagai Penasihat DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul. Berikut khotbah yang disampaikan. Semoga bermanfaat.

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  أَمَّا بَعْدُ

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ

 وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ

  (q.s fatir ; 11) إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

 Seraya memanjatkan puji ke khadirat illahi rabbi, dzat yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, yang tidak henti hentinya menganugerahkan rahmat dan karunianya kepada kita sekalian. Kita rasanya tidak akan habis-habisnya untuk terus bersyukur kepada Allah atas berbagai karunia dan nikmat yang telah dilimpahkanNya kepada kita, sehingga kita masih bisa bertahan menjaga keimanan dan keislaman sebagai nikmat yang paling besar. Kita pun hingga saat ini masih diberi kesempatan dan kekuatan, kemampuan dan kemauan yang didasari oleh keimanan kepada Allah Subhanahu Wata'ala untuk melaksanakan salah satu kewajiban kita sebagai makhluknya, yaitu melaksanakan ibadah Shalat Jum’at,

Dari mimbar ini saya mengingatkan diri saya pribadi khususnya dan umumnya kepada jamaah sekalian untuk selalu menjaga, mempertahankan dan terus meningkatkan nilai nilai keimanan dan ketaqwaan kita, karena dengan taqwalah kita bisa selamat di hari pengadilan  yang maha adil, Disaat dimana harta dan anak-anak tidak berguna lagi. Disaat dimana bapak tidak bisa menolong anaknya dan anak tidak bisa pula menolong bapaknya sedikitpun. Besar harapan kita semua, semoga seluruh kehidupan kita betul-betul ada dalam naungan dan ridho Alloh swt. Dengan bertambahnya usia kita mudah mudahan sejalan dengan bertambahnya ilmu dan meningkatnya keimanan kita. Pada gilirannya bertambah pula amal shaleh kita serta meningkatnya kualitas ketaqwaan kita kepada Allah swt.

Hadirin….

Kita sekarang berada di akhir bulan muharam bulan pertama di tahun 1442 H, dimana bulan dan tahun adalah  merupakan ukuran bilangan dalam perhitungan waktu, sehingga dengan bulan dan tahun kita dapat mengetahui perjalanan waktu. Oleh karena itu waktu menjadi suatu dimensi yang penting dalam kehidupan kita. Dengan waktu kita bisa mengukur masa suatu zaman, dengan waktu kita bisa merencanakan suatu kegiatan yang akan kita lakukan. Selain itu waktu juga bisa mengakibatkan berubahnya suatu ketentuan peraturan atau hukum tertentu. 

Dalam konteks pelaksanaan ibadah yang merupakan tugas kita hidup di dunia, waktu juga yang menentukan kapan kita harus boleh, dan kapan kita dilarang atau tidak boleh melakukan suatu peribatan. Kita tentu tidak shalat shubuh diwaktu ashar atau sebaliknya. Kita tidak boleh makan minum di bulan ramadhan manakala waktu shubuh tiba. Kita tidak menunaikan ibadah haji diluar bulan bulan yang ditentukan. Dan banyak lagi ibadah-ibadah yang kita lakukan yang harus sesuai dengan waktunya.    Demikianlah bagaimana pentingnya dimensi waktu dalam kehidupan manusia apalagi bagi kita sebagai seorang muslim, sehingga Alloh swt mengingatkan kita dalam salah satu firmannya yaitu dalam Al qur’an surat Al-Asr yang diawali dengan kata ..

وَالۡعَصۡرِۙ

(Demi masa)

Salah satu yang terkait dengan waktu adalah umur…umur hidup kita didunia dihitung berdasarkan waktu yang dimulai sejak kita dilahirkan oleh ibu kita…malah sejak ditiupkannya ruh kepada janin ketika kita masih ada dalam rahim ibu kita, maka sejak saat itulah perhitungan umur mulai berjalan sehingga kita semua masing masing sampai saat ini memiliki hitungan berapa umur kita…kita yang hadir sekarang ini tentunya memiliki umur yang beragam…dari umur yang relatif muda sampai umur yang sudah relatif tua.   

Hadirin…

Berapa umur masing masing kita sekarang?...

Kita pasti tahu berapa umur kita…namun yang pasti juga kita semua tidak tahu kapan umur kita akan berakhir, mungkin 1 jam lagi,,,1 hari lagi..1 bulan lagi atau beberapa tahun lagi…Tidak ada seorangpun diantara kita yang mengetahuinya…karena hanya alloh lah yang mengetahui dan menetapkan batas umur kita, sebagaimana firmannya :

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا ۚ

 وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِهِ ۚ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلَّا فِي كِتَابٍ ۚ

  (q.s fatir ; 11) إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi allah adalah mudah.  (q.s fatir ; 11)

Jadi kita semua sudah memiliki akhir umur masing masing, namun kita tidak tahu kapan batas umur kita, walaupun secara rata rata umur umat nabi muhammad berkisar antara 60-70 tahun sebagaimana sabdanya yang artinya 

Dari Abu Huraerah, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: umur umatku antara 60 hingga 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi itu (HR Ibnu Majah dan Attirmidzi)

Hadirin…..

Lalu bagaimana kita harus menyikapi umur kita? Apakah kita melihat umur hanyalah sebagai simbol matematik atau simbol simbol angka saja sehingga kita hanya memperhatikan berapa jumlah usia kita. Atau kita hanya memandang umur hanya sebagai hitungan masa hidup kita didunia tanpa makna, sehingga kita tidak menghiraukan apa yang telah kita lakukan selama umur kita…

Bagi kita yang mengaku muslim yang mu’min tentunya umur tidak hanya sebatas deretan angka tanpa makna. Umur bukan hanya sebatas hitungan masa yang tidak kita perhatikan dan kita abaikan berlalu begitu saja..tapi bagi kita umur harus diperhatikan, karena umur harus dipertanggungjawabkan kelak dihadapan pengadilan yang maha adil di akhirat nanti. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya : 

Dari Abi Barzah Al Aslami berkata, bersabda rasulullah saw: tidak akan melangkah kaki seseorang pada hari kiamat hingga ia ditanya: umurnya habis dipakai apa; tentang ilmunya sejauhmana pengamalannya; tentang hartanya darimana didapatnya dan dimana dibelanjakannya; dan tentang jasadnya dipakai apa sampai rusak (HR At Tirmidzi dan Ad Darini)

Berdasarkan hadist tadi jelas bagi kita yang mengaku muslim, umur bukan hanya deretan angka tanpa makna; 

Tapi umur harus kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah swt….lalu bagaimana kita mensikapi umur kita, maka dalam lanjutan surat al asr ditegaskan….

Sungguh manusia berada dalam kerugian kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan….

Oleh karena itu agar pertangungjawaban umur kita  “diterima” oleh Allah swt maka pergunakanlah/isilah umur kita   semaksimal mungkin dengan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan kita serta lakukanlah sebanyak banyaknya amal shaleh/kebajikan, karena sebaik baiknya manusia dihadapan Allah adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya sebagiamana sabda rasulullah saw dalam salah satu hadistnya yang artinya :

Dari Abdullah bin Busr ra, bahwa ada seorang arab baduy berkata kepada Rasulullah saw; wahai Rasulullah, siapakah sebaik baik manusia? Baginda menjawab: “orang yang paling panjang umurnya dan baik amalannya (HR Tirmidzi, Ahmad).

Orang yang baik amalnya tentu orang yang dalam hidupnya senantiasa mengisinya dengan berbagai amal kebajikan baik amal yang terkait langsung dengan alloh swt yaitu melakukan segala apa yang diperintahnya, maupun amal kebaikan kepada sesama manusia atau makhluk lainnya…berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, anak anak yatim, orang miskin adalah kebajikan dan banyak lagi berbagai amal kebajikan yang bisa kita lakukan termasuk bagaimana kita memperlakukan binatang maupun tumbuh tumbuhan yang juga merupakan makhluk Allah..

Hadirin…

Agar amal kita bernilai ibadah yang mendapat balasan pahala dari Allah swt, maka lakukanlah berbagai amal tadi dengan ikhlas semat mengharap ridla Allah swt,…..hindari beramal karena ingin dilihat orang…hindari beramal karena ingin didengar orang…hindari beramal karena ingin dipuji orang. Selain itu tentunya agar amal kita diterima Allah swt, lakukanlah amal sesuai dengan ketentuan alloh swt dengan mengikuti apa apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. ..tanpa dua syarat tadi , yaitu ikhlas dan sesuai sunnah Rasulullah saw, amal kita akan tertolak oleh alloh swt, dan yang lebih celaka lagi tidak hanya tertolak, tetapi diancam dengan siksa api neraka.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ,

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ الـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin….

Lalu kapan kita harus mulai beramal..lakukan amal kebajikan dikesempatan pertama sebelum ajal mendekat dan maut menjemput…bagi yang masih muda lakukan berbagai amal kebajikan mulai sekarang selagi masih muda, karena usia muda memiliki potensi yang lebih baik dibanding usia tua, sebagaimana rasulullah saw memperingatkan kita untuk memperhatikan lima perkara sebelum datang lima perkara,..yang salah satunya adalah perhatikan masa muda sebelum datang masa tua….

Selain itu bagi yang usia muda jangan terlena dengan usia mudanya, karena syarat meninggal dunia tidak harus tua…setiap kita, tua ataupun muda, setiap saat bisa sampai kepada akhir hidup di dunia ini…bagi yang usia tua walaupun potensi secara fisik sudah berkurang, tentunya jangan berputus asa, malah sebaliknya harus lebih intensip melakukan berbagai amal kebajikan sesuai kemampuan, karena secara teoritis semakin tua semakin dekat ajal menyapa…gunakanlah kesempatan dengan sebaik baiknya, jangan sampai kita menyesal sebagaimana berbagai penyesalan yang digambarkan oleh Allah swt dalam Alqur’an, antara lain dalam surat Al Munaafiquun ayat 10 : 

وَاَنْفِقُوْا مِنْ مَّا رَزَقْنٰكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُوْلَ رَبِّ لَوْلَآ اَخَّرْتَنِيْٓ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۚ فَاَصَّدَّقَ وَاَكُنْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "ya tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih."

Itulah gambaran penyesalan yang tidak berguna, karena ketika ajal tiba tidak bisa ditunda sesaat pun.

Penyesalan lainnya sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam Surat Fatir 37, yang artinya :

Mereka berteriak dalam neraka itu, “ya tuhan kami, keluarkan kami dari neraka, pasti kami akan mengerjakan kebajikan yang berlainan dengan perbuatan kami dulu, “dikatakan kepada mereka, “bukankah kami telah memanjangkan umurmu agar dapat berfikir bagi orang yang mau berfikir, padahal telah datang pemberi peringatan kepadamu? Maka rasakanlah adzab kami, tidak ada seorangpun penolong bagi orang orang dzalim.

Hadirin…

Semoga  kita tetap semangat untuk mengisi sisa usia kita dengan melakukan berbagai amal kebajikan, agar kita dimudahkan dalam mempertanggungjawabkan hidup kita ini, khususnya  pertanggungjawaban umur kita pada saat hari hisab nanti

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

للّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ الاَحْيِاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وِ يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُرَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَرَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعينسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَوَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُـمَّ إِنيِّ أَعوُذُ بِكَ مِنْ عَذاَبِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذاَبِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَحْياَ وَالْمَماَتِ وَمِنْ فِتْـنَةِ الْمَسيِحِ الدَّجاَّلِ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ