Senin, 12 Agustus 2019

KIsah Nusaibah, Wanita yang kematiannya disambut para Malaikat

Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.

Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.

Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.

“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar...

“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,

“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. *“Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”*

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.

“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. *“Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”*

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, *“Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”*

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. *“Kau tidak takut, nak?..”*

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya.

“Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya.

“Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, *“Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”*

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.

“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.

Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.


Musuh banyak yang terbirit-birit menghinndarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, *“Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”*

“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.

Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

*Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.*

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,
“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”*

Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..

Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..


Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?
Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Kalo ingin anak menjadi kuat, maka kita harus menjadi ibu yang kuat terlebih dahulu.

Wallahu'alam...

Sabtu, 10 Agustus 2019

Khutbah Idul Adha Al-Muhajirin: Anak durhaka, buah didikan orang tua

Dari khutbah Idul Adha Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani, Imam/Khatib Ustadz Imam Nuryanto.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"


Hadirrnya seorang anak ditengah2 keluarga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Rasanya kurang lengkap apabila pasangan suami istri, walau Allah menganugerahi harta melimpah, namun tak memiliki momongan. Untuk mencapai harapan itu, tak sedikit para  pasangan suami istri menempuh berbagai cara agar dikarunia seorang anak.

Namun setelah anak lahir, dibalik kebahagiaan tentunya memiliki konsekuensi adanya tangung jawab besar bagi orang tua, khsusunya bagi ayah sebagai pemimpin di keluarga, utuk membesarkan anak sekaligus membekalinya dengan ilmu agama.

Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kembali bahwa anak-anak bisa menjadi sumber fitnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allâh pahala yang besar. [At-Taghâbun/64:15]

Memang benar bahwa anak bukan milik kita, Anak adalah mllik Allah. Kita hanya diberikan amanah titipan dari Allah SWT, karena itu kapan saja Allah bisa mengambil anak yg kita cintai. kita dambakan dan kita tunggu kehadiriannya.

Apa yg dititipi Allah kita harus menjaganya. Jangan sampai titipan anak dalam keadaan fitrah atau suci dikembalikan dalam keadaan kotor penuh kedurhakaan. Diberikan dalam kondisi suci maka sejatinya dikembalikan dalam keadaan suci pula.

Namun demikian, kadang kita sebagai ayah lupa pada tanggung jawab sebagai orang tua. hanya kebutuhan dunia saja yg dipenuhi tanpa tangggung jawab untuk mendidik anak dengan kesholehan dan ketauhidan pada Allah SWT.

Jangan bunuh anak2

Hendaknya para orang tua jangan kalian bunuh anak kalian karena takut miskin. Allah lah yg menjamin rizkinya. tak salah kita cari nafkah tapi setiap anak lahir telah Allah tetapkan rizkinya. Bahkan sampai matipun.

Dalam Surat Al-An'am, ayat 151:

۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
Dengan demikian jelas lah bahwa Allah lah yg akan menjamin rezeki pada setiap anak. Setiap anak lahir telah ditetapkan rizkinya. Kita sebagai ayah bukan sebagai pemberi rizki. Rizki itu dari Allah, dan  yang menjamin rizki adalah Allah Shubhanahu Wata'ala.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. 



Dalam Surat At-Tahrim Ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).

Wahai para orang tua,  di pundak kita punya tanggung jawab berat. Jangan sampai keluarga kita, anak2 kita malah menjadi bahan bakar neraka. Naudzubillah tsuma Naudzubillah.

Dalam satu riwayat ketika Rasulullah SAW, menerima seorang utusan bahwa cucunya mengalami sakaratul maut, maka Rasulullah  menyampaikan pada utusan itu bahwa sesungguhnya milik Allah apa yang telah Allah berikan, dan hak Allah pula untuk mengambilnya, kapan saja dan dimana saja. Semuanya telah ada  ketentuan Allah atas rezeki, jodoh dan ajalnya.

Oleh karena itu Kita sebagai Ayah sudah kah kita memeriksa ibadah anak2 kita, memeriksa hafalan bacaan shalatnya, sudah memeriksa dalam menjaga shalat lima waktu, serta  sudah kah shalat berjamaah ke masjid bagi anak laki2. Sudah dekatkah anak2 kita dengan Alquran dan hadist, berapa surat yg sudah dia hafal dan fahami. Atau malah justru kita sendiri yang jauh dari Alquran?

Coba perhatikan anak2 sekarang. Terutama anak SLTP dan SLTA, mereka sudah jarang mengikuti kajian2 di masjid. Alasannya mereka sudah terlalu sibuk, capek, lelah dan telah mengikuti berbagai kursus. Lalu pendidikan macam apa jika seperti ini? boleh jadi mereka pintar tapi, sungguh dalam dadanya, secara ketauhidan mereka hampa dan kosong. Jangan sampai anak2 kita menjadi durhaka karena buah didikan kita sebagai orangtua.

Lalu apakah kita lupa dengan doa2 kita sewaktu mereka lahir? Kita laksanakan aqiqah atau tasyakur bi'nikmah, agar anak kita memiliki kesholehan. Bahkan kita mintakan doa2 kepada para ustadz, kyai, anak2 yatim. Lantas kemana doa2 kita dulu itu?



Hikmah Idul Adha

Idul Adha yang salah satu rangkaiannya ialah ibadah Kurban yang merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Melalui ibadah Kurban kita mengenang kembali serta mencoba meneladani perjuangan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As.

Adapun di antara keteladanan dari praktik pendidikan keluarga Nabi Ibrahin As ialah karakter kesabaran. Pola pendidikan dalam keluarga Nabi Ibrahim As yaitu bahwa Nabi Ismail As tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya yakni Siti Hajar. Dan Siti Hajar tidak akan menjadi seorang penyabar jika tidak dididik oleh Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As pun tidak akan dapat sabar jika tidak mendapat bimbingan dari Allah SWT melalui wahyu-Nya.

Keluarga tak ubahnya sebagai sekolah pertama yang menjadi pondasi pokok dalam tumbuh kembang karakter anak. Keteladanan orang tua bagi anak-anaknya sangatlah penting. Karena itulah, orang tua musti menjaga tutur kata dan tindakannya dalam mendidik anak. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dalam pendidikan keluarganya.

Gambaran keluarga Nabi Ibrahim ini setidaknya memberikan tiga keteladanan pendidikan karakter penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap anggota keluarga.

Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Dalam hal ini secara tidak langsung Nabi Ibrahim As mengajarkan musyawarah ketika mengambil keputusan dalam keluarga.

Ketiga, pelajaran yang tak kalah penting yaitu menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan.

Jika suatu saat ada perluakuan tidak enak dari anak dari anak2 kita, jangan mudah menuduh sebagai anak durhaka. Bisa jadi karena itu didikan kita yang tidak membawa anak pada ketauhidan dan kesholehan. Bisa jadi itulah hasil kerja kita sebagai orang tua.

Di dunia saja kita bisa perih menerima perlakuan buruk dari anak kita, maka bisa jadi kelak di akhirat akan lebih perih lagi sebagai akiat kita belum bsia menjadi seorang ayah yg baik. Mereka kelak akan menuntut kita. Akibat kita tidak mampu mendidiknya. Itulah buah dari amal diri kita sebagai orang tua. 

Semoga saja kelak ketika kita telah mati, dapat meninggalkan anak2 yang sholeh/sholehah sebagai buah hasil didikan kita selama hidup di dunia. Aamiin Ya Robbal'aalamiiin.

Laporan Ketua DKM

Sementara itu dalam laporannya, Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono, menyampaikan bahwa hewan qurban tahun ini sebanyak 20 (dua puluh) ekor Sapi dan 20 (dua puluh) ekor Kambing. Ini hampir sama dengan jumlah hewan qurban tahun lalu. DKM menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para Mudhohi untuk berqurban di DKM Al-Muhajirin.

Disampaikan pula tentang niat DKM Al-Muhajirin untuk membeli tanah yang berlokasi di seberang jalan Masjid Al-Muhajirin, atau berlokasi di Jl Jayapura No.1. Dengan ucapan bismillah, DKM Al-Muhajirin berniat akan membeli dan membangun rumah tahfiz dan Madrasah bagi anak2 yatim/piatu dan anak2 miskin lainnya yang akan dididik, selain ilmu agama, juga keterampilan untuk membekali kehidupannya supaya bisa mandiri.

"Saat ini kami tengah mencari para donatur bagi yang berminat menjadi pewakaf. Dan mohon dibantu pula oleh  Jamaah Al-Muhajirin, untuk mencarikan para donaturnya, in syaa Allah pahalanya sama dengan pewakafnya" tandas Sigit. (*nas)

DKM Al-Muhajirn Mencari Pewakaf Tanah

Islam menyediakan wakaf sebagai fasilitas umat yang ingin menjaga keberkahan dan kekekalan harta untuk taqarrub kepada Allah, menggapai kebaikan dan ridha-Nya. Wakaf adalah sedekah yang paling mulia dan bentuk perniagaan terbaik dengan Allah SWT. 

Sehingga Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang berwakaf, dengan melimpahkan aliran pahala dan kebaikannya sampai hari kiamat.

DKM Al-Muhajirin, in syaa Allah, bertekad untuk mengembangkan dakwah Islamiyah yang lebih luas dan inovatif. Terutama dakwah yang lebih memberi makna dan manfaat pada lingkungannya, khsusnya terhadap kehidupan kaum fakir miskin, anak yatim/piatu dan anak2 putus sekolah. Mereka akan diberikan pendidikan agama Islam dan keterampilan dengan harapan kelak mereka bisa mandiri dalam menjalani kehidupannya.


Harapan besar itu pada tahap awal akan dituangkan dalam pengadaan tanah untuk selanjutnya akan dibangun Rumah Tahfidz dan Madrasah.

Kebetulan disamping Masjid Al-Muhajirin ada tanah yang mau dijual seluas 1.161 m2. DKM Al-Muhajirin, melalui Ketuanya H Sigit Tjiptono, telah menghubungi pemiliknya serta disampaikan maksud dan tujuannya sekaligus dilakukan negosiasi harga. Pemiliknya sangat memahami dan menyetujui. Soal harga, kabarnya, bisa dibicarakan selanjutnya. Yang pasti dengan harga yang miring. Kita berdo'a semoga pemilik tanah turut memberikan donasi wakafnya setengah dari harga tanah. Aamiin...

Untuk itu DKM Al-Muhajirin telah mempersiapkan tahap awal dengan membentang spanduk. Tujuannya tentu untuk mencari para donatur. Teknisnya, mungkin akan dicari 500 donatur dengan nominal wakaf Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Nominal santunan wakaf ini boleh diserahkan secara cash atau dicicil selama dua tahun. Jika dana wakaf ini sudah terkumpul maka, in syaa Allah, akan diperoleh dana sebesar Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). Tidak menutup kemungkinan juga terpanggilnya para Donatur VIP dengan besar santunan yang tak terbatas.
Dengan dana wakaf sebesar itu, maka in syaa Allah 50% untuk pembelian tanah dan 50% lagi untuk pembangunan gedung.
Untuk peminat sebagai donatur silahkan dapat berhubungan atau berkonsultasi dengan Ketua DKM Al-Muhajirin Antapani Kidul, H Sigit Tjiptono, di No HP: 0811231430.

Mengapa harus berwakaf

WAKAF tidak menghabiskan harta, justru mengekalkan harta dan menjadi jalan untuk meraih ridha dan ampunan-Nya, karena nilai manfaatnya tidak hanya dinikmati di dunia saja, tapi juga dipetik hingga di akhirat nanti.

Wakaf termasuk amal ibadah yang istimewa bagi kaum muslim, karena pahala amalan ini bukan hanya dipetik ketika pewakaf masih hidup, bahkan pahalanya juga tetap mengalir terus meskipun pewakaf telah meninggal dunia. Semakin banyak orang yang memanfaatkannya, maka semakin bertambah pula pahalanya

Wakaf tak hanya mendatangkan manfaat bagi pewakaf, tapi juga penerima wakaf. Karena saat kita melepas harta sebagai wakaf, maka bulir-bulir kebaikan dan manfaat akan lahir seiring pahala yang terus mengalir.

Pahala WAKAF Mengalir Deras Hingga Akhirat

Wakaf berasal dari perkataan Arab “al-waqf” yang bermakna “al-habsu” (الْحَبْسُ) atau al-man’u (اَلْمَنْعُ) yang artinya menahan, berhenti, diam, mengekang atau menghalang. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu.

Adapun secara istilah syariat (terminologi), wakaf berarti menahan hak milik atas materi harta benda (al-‘ain) dari pewakaf, dengan tujuan menyedekahkan manfaat atau faedahnya (al-manfa‘ah) untuk kebajikan umat Islam, kepentingan agama dan atau kepada penerima wakaf yang telah ditentukan oleh pewakaf.

Dengan kata lain, wakaf menahan asalnya dan mengalirkan hasilnya. Orang yang berwakaf berarti melepas kepemilikan atas harta yang bermanfaat, dengan tidak mengurangi bendanya untuk diserahkan kepada perorangan atau kelompok agar dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang tidak bertentangan dengan syariat.

Dengan cara ini, harta wakaf dapat dipergunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial demi kemaslahatan umat secara berkelanjutan tanpa menghilangkan harta asal: mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi mikro, sarana transportasi, tempat ibadah, sarana kegiatan dakwah dan sebagainya. Dengan wakaf nilai kekayaan kekal, manfaat dan kebaikannya akan terus bertambah.

Harta wakaf hanya berhak digunakan dan dimanfaatkan tanpa berhak memilikinya. Berbeda dengan zakat yang boleh dimiliki individu dan diperjualbelikan.

Muslim yang berwakaf bukan saja mendapatkan pahala saat memberikan wakaf, tetapi akan terus mendapat kucuran pahala selama benda yang diwakafkannya dimanfaatkan orang lain meskipun pewakaf tersebut sudah meninggal dunia.

(Inilah tanah yang yg luasnya 1161 m2, yang in syaa Allah, akan dibangun
Rumah Tahfiz dan Madrasah)


(Lokasinya sangat strategis karena berada berdampingan dengan
lokasi Masjid Al-Muhajirin. Jadi jangan ragu untuk menjadi Pewakaf)