Selasa, 17 Juli 2012

Puasa, Tinjauan Secara Syariat, Tarekat dan Hakekat

Oleh AHMAD SAHIDIN

ALKISAH seorang Muslim yang hidup setelah masa Khulafa Ar-Rasyidun. Ia pada masa itu dikenal ahli ibadah yang tinggal di serambi masjid nabawi. Ia hampir tiap hari melakukan itikaf, dzikir, shalat dan ibadah lainnya. Ia jarang ke luar karena penglihatannya tidak normal alias buta. Suatu hari datang kabar bahwa temannya sakit keras. Kemudian ia menengoknya dengan diantarkan sahabatnya yang lain. Ketika tiba temannya itu meminta ia untuk berdoa demi kesembuhannya. Karena itulah setiap selesai shalat ia mendoakannya. Ajaibnya, beberapa hari setelah kunjungan itu temannya sembuh.

Atas kesembuhan itulah ia dinilai sebagai wali yang dapat menyembuhkan orang dengan doa. Karena alasan itu pula banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Tiap orang yang meminta doa kepadanya senantiasa terkabulkan. Sampailah suatu hari seorang teman bicara kepadanya, “Fulan, doa-doamu itu sangat mujarab dan benar-benar dikabulkan Allah. Tapi aku heran kenapa engkau tidak berdoa untuk kesembuhan matamu sendiri.”

Ditanya seperti itu Fulan menjawab, “Tidak, aku tidak ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diriku sendiri. Aku merasa beruntung karena kecacatanku ini telah mendekatkan aku kepada Allah. Dan kemungkinan besar bila mataku normal pasti akan lebih banyak terjerumus dalam kemaksiatan dibandingkan ketaatan.”

Demikian kisah yang cukup luar biasa. Sebab penderitaan yang ada pada kisah di atas menjadi salah satu alat untuk memasrahkan diri kepada Allah. Sebuah cara pandang yang muncul atas nurani yang jarang kita temukan di lingkungan masyarakat. Sebab di zaman modern ini sangat jarang orang yang mau bersyukur dengan ketentuan yang ditetapkan sebagai takdir Tuhan.

Banyak orang yang tidak bisa menerima keberadaan dirinya yang serba kurang, atau yang berbeda jauh dengan orang lain.Banyak orang normal, tapi lupa kepada Tuhan dan bahkan cenderung tidak menghiraukan perintah dan larangan-Nya. Kita juga sering melihat banyak orang Islam yang tidak mengikuti aturan-aturan Allah, tidak berpuasa misalnya. Mereka sering menganggap bahwa dengan puasa dirinya sedang diperas, dihambat dan diperdaya. Mereka tidak paham bahwa dengan puasa justru kita dibersihkan dan disehatkan dari berbagai penyakit lahir maupun batin. Dengan puasa kita dilatih jujur dan disiplin serta dilatih untuk peka terhadap sesama saudara kita yang mustadhafin.

Maka dengan menjalankan puasa secara sesungguhnya kita sedang dibina untuk menjadi manusia yang bertakwa. Untuk menjadi manusia yang bertakwa tentunya dilakukan dengan proses yang panjang. Ia diwajibkan berakhlak mulia, taat dan patuh terhadap perintah dan larangan agama. Hal ini termasuk menjalankan puasa. Apabila seorang Muslim menjalankannya dengan sebenar-benarnya maka ia disebut orang yang bersih sepeti bayi yang baru dilahirkan. Inilah sebabnya puasa Ramadhan diakhiri dengan idul fitri. Yakni perayaan atas kemenangan umat Islam yang berhasil mensucikan dirinya dari hal yang nista dan kotoran-kotoran jiwa. Sejatinya kesucian itu dipertahankan yang sekaligus menjadi “benteng” dari terpaan-terpaan negatif di bulan-bulan lain. Sehingga wajar bila Rasulullah saw merasa sedih bila di akhir hari-hari Ramadhan. Sebabnya adalah khawatir bila nanti jiwa yang bersih dan suci itu terkontaminasi dengan hal-hal yang nista.

Oleh karena itu, seorang Muslim dikatakan buruk bila hari ini lebih jelek dari kemarin. Dikatakan rugi jika kelak di pascaRamadhannya itu tidak meningkatkan kualitas hidup atau menurun dalam ibadahnya. Mereka inilah yang disebut tidak berhasil dan tidak berprestasi dalam puasa Ramadhannya. Ini yang dalam hadits dikatakan, banyak di antara orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus, dan banyak orang yang shalat malam (namun) yang didapatkannya itu hanya terjaga dari tidur (belaka) (HR Ahmad dan Hakim).

Bagaimana caranya supaya puasa kita mencapainya? Dalam literatur tasawuf, terutama al-Ghazali dan al-Qusyairi menyarankan berpuasa dalam tataran hakikat. Akan tetapi, tahapan hakikat ini tidak bisa begitu saja diraih, tapi harus bertahap dari fase syariat, tarekat, dan hakikat. Pada fase syariat ini seorang Muslim harus paham dalil-dalil syari` dan hukum batal dan sahnya puasa. Kemudian, ia diharuskan untuk meningkatkan ke tingkat selanjutnya, yaitu tarekat. Selain puasa secara lahiriah (syariat) juga harus mempuasakan aspek batinnya. Seperti puasa mencela, memaki, bohong, bertengkar, atau tidak berimajinasi maupun berpikir tentang yang porno dan hal-hal nista atau yang dapat membuat rusaknya nilai puasa, serta tidak meninggalkan ibadah-ibadah wajib dan sunah yang rutin dikerjakan.

Jadi, pada fase tarekat, seorang Muslim dituntut untuk lebih kreatif dan produktif dengan meningkatkan amalan-amalan lainnya. Apabila seorang Muslim tersebut tetap istiqamah dalam kedua fase tersebut maka ia sedang menuju tangga hakikat. Karena itu, seseorang yang sedang menuju fase hakikat harus mampu merasakan dengan kesadaran penuh bahwa dengan puasa ia sebenarnya sedang berhubungan dengan Allah Swt sehingga apa pun yang dikerjakan dan dilakukan, baik ketika berpuasa maupun saat di luar ibadah puasa, senantiasa merasa dijaga dan diawasi Allah. Inilah yang dimaksud berada dalam tataran hakikat.

Pendeknya, puasa secara syariat adalah khidmatullah. Secara tarekat adalah qurbatullah. Secara hakikat ialah penggabungan diri dengan Allah (wushlatullah). Mereka yang bisa bergabung dengan Allah adalah mereka yang suci dan kembali pada fitrah Ilahi. Orang yang termasuk kategori tersebut layak disebut muttaqin (orang bertaqwa). Bukankah tujuan puasa Ramadhan agar manusia menjadi bertaqwa? Karena itu, puasa Ramadhan bukan hanya menjalankan syariat, tetapi juga untuk mengembalikan kita pada fitrah, kesucian. Bagi mereka yang mensucikan diri (tazkiyatun nafs) adalah yang pantas untuk sampai pada idul fitri.

Menjalankan aturan Allah dengan penuh keikhlasan akan meninggikan kita menuju menjadi manusia yang sempurna. Yakni manusia yang tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang lain—baik itu materi maupun jabatan sosial—karena segala keperluaannya telah dipenuhi dan dijamin Allah Yang Mahasempurna. Allah Swt berfirman, ”Dia telah memberikan kepadamu segala keperluan dari apa-apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan ingkar.” (QS Ibrahim: 34)

(AHMAD SAHIDIN, guru mentoring di Sekolah Cerdas Muthahhari Bandung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar