Senin, 27 Juni 2016

Qodaran Nenek Penjual Pisang

Saya tak hendak menyoal gaji 13 ataupun 14.
Mengapa? karena perkara gaji hanya dimiliki yang punya lisensi gaji.
Adalah mereka orang-orang yang bekerja pada instansi ataupun orang lain.

Sementara yang ‘merasa’ tidak memiliki gaji 13 dan 14,
adalah mereka yang bekerja untuk diri mereka sendiri.
Gaji mereka tak ada batasan bisa gaji ke-13,14,15….dan seterusnya...
Bonus atas segala usaha mandiri yang kemudian diapresiasi oleh hasil adalah
kepuasan tanpa tanding.
…………………..

Jadi sesungguhnya nilai gaji yang terakhir inilah yang tak berbilang nominalnya.
Nilai semangat,
Nilai kreasi, dan inovasi yang tiada henti.
Nilai syukur yang terus subur,
Nilai berserah tanpa lelah,
Nilai usaha yang terus membara.
…………………..

Mari kita simak dialog berikut:

"Wah…pisangnya bagus-bagus Mbah…,"
Kataku sembari berjongkok di depan perempuan sepuh
yang berjualan di pinggir jalan depan pasar..

‘Lha monggo dipundut....… " kata si mbak perempuan itu riang.

Sungguh sudah sangat sepuh. Rautnya penuh kerut.
Kulitnya hitam. Kurus badannya.
Tapi suaranya cemengkling riang, giginya terlihat masih utuh.

"Ini kepok kuning… bagus dikolak...
Ini kepok putih… kalau digoreng sangat manis
Nah kalau yang itu… pisang pista, kulit tipis…harum manis...
tapi sayang belum mateng…" kata si mbak menawarkan.

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangannya yang cekatan
tapi telah ndredheg dredheg gemetar.

‘Sudah lama jualan, Mbah…?’

'Belum, ini ngejar rejeki buat lebaran?’

‘Putranya berapa Mbah?’

‘Kathah, banyak ..… pada glidik/kerja…’

‘Kok nggak  rehat aja to Mbah… siyam-siyam kok jualan’

‘Lha nggih ini karena siyam niku to, nggak boleh rehat…
Mumpung Gusti Allah paring sehat…’

Aku tercenung dengan jawaban perempuan sepuh itu.
Kulihat tangannya ngelap  kening dan dahinya
yang dlèwèran keringat dengan selendang lusuhnya.
Diantara para penjual ‘liar’ dipinggir jalan depan pasar itu,
Perempuan sepuh ini satu diantaranya yang menggelar dagangan tanpa iyup iyup peneduh.
Padahal hari itu panas luar biasa.
……………………
‘Kalau pulang jam berapa Mbah?’

‘Jam tiga sudah pulang ..…, lha ada kewajiban nyiapkan wedang buat anak-anak TPA’

‘Kok kewajiban, yang mewajibkan siapa Mbah?’

‘Nggih kula, nggih saya sendiri …’

‘Ooo…begitu…. Setiap hari, selama puasa?’

“Inggih… wong cuma  anak limapuluhan..’

‘Wah panjenengan  hebat nggih Mbah…’

‘Halah cuma wedang sama penganan kecil-kecil..’

‘Yang penting bocah-bocah rajin ngaji…, mBah sudah seneng.
Jangan bodoh kaya Mbahe yang cuma bisa Fathihah…’
…………………

Aku makin tercekat.
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.

‘Kok banyak banget ...... mau buat apa?’ tanyanya heran.

Aku hanya tersenyum.

‘Semua berapa Mbah?’
Perempuan sepuh itu menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.

‘Kok murah banget Mbah…’

‘Mboten… itu sudah pas, ini bukan pisang kulakan, panen sendiri...’

‘Nggih…matur nuwun…’ kataku sembari mengulurkan uang..

‘Aduh… nggak ada kembalian, belum kepayon…’

‘Saya tukar dulu Mbah…’

Aku sengaja meninggalkan perempuan sepuh itu.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Mesin motor pun kunyalakan.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu..
Kumasukkan beberapa lembar uang lima ribuan yang masih baru, ke dalam amplop,
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPA
yang katanya cah limapuluhan tadi.
Penutup lem ampop kubuka lalu kurapatkan.

‘Niki mbah, sudah saya tukar, sudah pas nggih…’

Perempuan sepuh itu menerima amplop masih dengan tangan dredheg gemetar.
Tanpa menunggu jawaban, aku pun segera pergi.
……………….

Esoknya aku mampir lagi…tapi kosong
Berikutnya aku mampir lagi…kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedangang sebelahnya.

‘Mbahe kok nggak jualan to Mbak?,
‘Oh nggak, beliau … jualan kalau panen pisang aja, .…’

‘Sampyean to yang kemarin ngasih amplop...Walah Mbahe nangis ngguguk ..…jare bejo, dapet qodaran..’ kata si mbak itu.
………………..


Qodaran barangkali yang dimaksudkan adalah lailatul qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.
Para malaikat turun dari langit,
Langit hati kita.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki,
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Rejeki sesuai kapasitas kita
Lantas siapakah yang mendapatkannya??
………………..
Barangkali perempuan sepuh inilah yang mendapatkannya.
Bukan karena ia ahli ibadah
Bukan pula karena I’tikafnya yang  kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya ‘hanya’ bisa fathihah itu.
Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekadar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang
dan penganan bagi limpuluhan bocah selama puasa,
sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.
……………..
Aku jadi teringat  pertanyaan teman,
tentang pencapaian lailatul qodar.
Benarkah memang ia turun di 10 hari terakhir malam ganjil?
Maka …malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan.
Tak bisa dijujug dengan akhiran.
semua butuh proses….karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum selama dan sesudah Ramadan.

Itulah sesungguhnya qodaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar