Kamis, 23 Juni 2016

Seputar Permasalahan I'tikaf

1. Hikmah

Al-Allamah Ibnul Qayyim رحيمه الله berkata: “Dan (Allah) syari’atkan i’tikaf bagi mereka yang mana maksudnya serta ruhnya adalah berdiamnya hati kepada Allah dan kumpulnya hati kepada Allah, berkhalwat denganNya dan memutuskan (segala) kesibukan dengan makhluk, hanya menyibukkan diri kepada Allah semata.


Beliau juga menyebutkan diantara tujuan i’tikaf adalah agar supaya kita bertafakkur (memikirkan) untuk selalu meraih segala yang mendatangkan ridha Allah dan segala yang mendekatkan diri kepadaNya dan mendapatkan kedamaian bersama Allah sebagai persiapan kita menghadapi kesepian di alam kubur kelak.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin رضي الله عنه berkata: “ *Tujuan dari pada i’tikaf* adalah untuk *_memutuskan diri dari manusia untuk meluangkan diri dalam melakukan ketaatan kepada Allah di dalam masjid agar supaya meraih karunia dan pahala serta mendapatkan lailatul qadar.


Oleh sebab itu hendaklah seorang yang beri'tikaf menyibukkan dirinya dengan berdzikir, membaca (Al-Qur’an), shalat dan ibadah lainnya.
Dan hendaklah menjauhi segala yang tidak penting dari pada pembicaraan masalah dunia, dan tidak mengapa berbicara sedikit dengan pembicaraan yang mubah kepada keluarganya atau orang lain untuk suatu maslahat, sebagaimana hadis Shafiyyah Ummul Mukminin رضي الله عنهما berkata: “Bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf lalu aku mengunjunginya pada suatu malam dan berbincang dengannya, kemudian aku bangkit untuk pulang lalu Nabi صلى الله عليه وسلم bangkit bersamaku (mengantarkanku).” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Makna I’tikaf yaitu berdiam (tinggal) di atas sesuatu


Dan dapat dikatakan bagi orang-orang yang tinggal di masjid dan menegakkan ibadah di dalamnya sebagai mu’takif dan ‘akif (orang yang sedang i’tikaf).

3. Disyari’atkannya I’tikaf dan Waktunya

_Disunnahkan pada bulan Ramadhan dan bulan yang lainnya sepanjang tahun_.
Telah shahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Syawwal. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan sahabat Umar رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ini pernah bernadzar pada jaman jahiliyyah (dahulu), (yaitu) aku akan beri’tikaf semalam di Masjidil Haram ?” Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tunaikanlah nazarmu.” Maka ia (Umar) beri’tikaf semalam.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis sahabat Umar ini adalah dalil bahwa _i’tikaf boleh dilakukan diluar bulan Ramadhan dan tanpa melakukan puasa, karena i’tikaf dan puasa adalah dua ibadah yang terpisah dan tidak disyaratkan untuk menggabungkan keduanya_, ini adalah pendapat yang benar.

Diperbolehkan pula i’tikaf beberapa saat (tidak dalam waktu lama)_.
(“Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/508-509 dan 6/511..).

Yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan_, berdasarkan hadits Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwasanya _Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلم beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama sepuluh hari_ dan manakala tiba tahun yang dimana beliau diwafatkan, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari. (HR. Bukhari).

Dan yang lebih afdhal lagi adalah pada akhir bulan Ramadhan*, karena *_Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf pada sepuluh (hari) terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Ta’ala mewafatkan beliau. (HR. Bukhari dan Muslim).

Seseorang yang berniat i’tikaf sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan *hendaklah memulai i’tikafnya pada hari keduapuluh Ramadhan sebelum matahari terbenam*, jadi *_malam pertamanya adalah malam keduapuluh satu Ramadhan_*.
(Lihat “Al-Mughni”, Ibnu Qudamah 4/489-491, “Mukhtashar Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab” An-Nawawi 6/211, “Fiqhus Sinnah”, Sayyid Sabiq 1/622-623, dan “Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/521).

4. Hendaklah I’tikaf Dilakukan di Masjid

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al-Baqarah: 187).
Ayat tersebut juga sbg dalil atas diharamkannya jima’ dan segala pendahuluannya, seperti mencium dan meraba dengan syahwat- bagi orang yang i’tikaf.

I’tikaf boleh dilakukan di semua masjid*, akan tetapi yang paling afdhal adalah i’tikaf di tiga masjid (Masjidil Haram Mekkah kemudian Masjid Nabawi Madinah kemudian Masjdil Aqsha Palestina) sebagaimana. Sabda Rasulullah صلّى اللّه عليه وسلم* *“Tidak ada i’tikaf (yang lebih sempurna dan afdhal) kecuali di tiga masjid (tersebut)."
(HR. AbduR Razzaq dalam “Al-Mushannaf” (8037) dengan sanad sahih.

Lihat “Shifat Shoum Nabi“ hlm 93 dan gabungkan dengan “Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’”, Karya Syaikh Utsaimin 6/505).

5. Wanita Boleh Beri’tikaf di Masjid*
Bersama suaminya atau sendirian, sebagaimana dikatakan Aisyah . رضي الله عنه :
“Bahwasanya *_Nabi صلى الله عليه وسلم beri’tikaf sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau, kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحيمه اللّه berkata: “Dalam hadis tersebut ada dalil bahwa boleh wanita beri’tikaf. Dan *_tidak diragukan lagi bahwa hal itu terikat oleh ijin dari wali mereka, aman dari fitnah (hal-hal yang tidak di inginkan) dan tidak terjadi kholwah (berdua-duan) dengan laki-laki berdasarkan dalil-dalil yang banyak tentang hal tersebut_* dan *juga kaidah fiqih*: Menolak kerusakan hrs didahulukan daripada mendatangkan kebaikan.

6. Tidak Keluar dari Masjid Kecuali Seperlunya

Hendaklah orang yang i’tikaf tidak keluar dari masjid selama ’tikaf kecuali seperlunya, sebagaimana dikatakan Aisyah رضي الله عنه : Yang sunnah bagi orang i’tikaf adalah tidak keluar, kecuali untuk perkara yang mengharuskannya keluar.
(HR. Al-Baihaqi dengan sanad sahih)

Aisyah رضي الله عنه berkata pula: “Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم apabila i’tikaf tidak masuk rumah, kecuali karena hajat manusia.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Keluar dari masjid ketika ’tikaf ada tiga macam_:

a). Keluar untuk suatu perkara yang merupakan keharusan* seperti, *_buang air besar dan kecil, berwudhu dan mandi wajib atau lainnya seperti makan dan minum_*, ini adalah *boleh apabila tidak memungkinkan dilakukan di dalam masjid.

b). Keluar untuk perkara ketaatan* seperti, menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah, hal ini tidak boleh dilakukan kecuali apabila dia telah berniat dan mensyaratkannya di awal i’tikaf.

c). Keluar untuk perkara yang menafikan i’tikaf seperti: untuk jual beli, jima’ dan bercumbu dengan isterinya dan yang semacam itu, hal ini  tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan i’tikaf dan menafikan maksud dari i’tikaf.  
(Oleh:Abdullah Saleh Hadrami)

[“Majelis Syahr Ramadhan” hlm 160 Karya Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -Rahimahullah].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar