Rabu, 06 Juli 2016

Khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan adalah yang akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Walaupun ramadhan telah berlalu dia akan senatiasa istiqomah mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan dengan berbagai ibadah sebagaimana yang telah ia lakukan selama ramadhan. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuh suburkan pasca Ramadhan. Ia akan tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam Ramadhan.

Hal itu disampaikan oleh Ust Sirojul Munir dalam Khutbah Iedul Fitri 1437 H di Lapangan/Halaman Belakang Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul.

Menurut Ust Sirojul, bahwa dalam merefleksikan nilai takwa dapat dijadikan sebagai sarana untuk memaksimalkan potensi amal shaleh pasca Ramadhan di antaranya tetap bersegara dalam merebut setiap peluang untuk melakukan kebaikan dan bersegera untuk melakukan kebajikan dan tidak menjadi orang yang selalu menunda amalan. Seperti firman Allah swt. “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.“ (Q.S al-Anbiyaa’: 90).

“Dalam melakukan amal shaleh secara maksimal membutuhkan pengorbanan. Ia berangkat dari niat yang ikhlas kemudian secara nyata ditunjukkan dengan amal yang serius dan penuh kesungguhan. Allah Ta’ala memuji dan menjanjikan surga para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekedar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan kehadirat Illahi Rabbi. Kesungguhan dalam ibadah tidak hanya nampak dalam ritual ibadah yang bersifat habluminallah tapi ia mempunyai konstribusi yang sangat kuat dalam menghidupkan ibadah yang bernuansa habluminannas dengan berbagi kepedulian terhadap kaum dhu’afa,” kata Ustad Sirojul dalam khotbahnya dihadapan para jamaah Warga RW-10 dan warga masyarakat sekitarnya yang memenuhi halaman belakang Masjid Al-Muhajirin.

Lalu amalan apakah amalan yang paling dicintai Allah? Menurut Ustadz tentu saja adalah amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Warna kesinambungan dimaksud adalah amalan pasca ramadhan yang senantiasa terjaga mulai dari melaksanakan ibadah puasa sunah, shalat (wajib dan sunnah), infak dan shadaqah dan amalan-amalan lainnya .

Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dgn amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan sesungguhnya menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dlm meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Bukankah Allah swt berfirman,”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiap kan baginya jalan yang mudah.” (QS Al Lail: 5-7).

Agar amalan tetap istiqomah, kata Ust Sirojul, maka dalam beribadah kita tak sekadar mengerjakan ibadah wajib saja, tentunya kita berusahan dengan menambah ibadah sunnah lainnya seperti tuntunan Rasulullah saw. Rasulullah bersabda: “Dan tidaklah hambaku terus-terusan mendekatkan diri kepadaku dengan ibadah-ibadah sunat sehingga aku mencintainya” (HR Bukhari dan Muslim).

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

“Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

Memang tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril dan diamini oleh Rasulullah : “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni” (HR Ahmad).

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Dia mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya.

Lalu muncul satu pertanyaan besar: Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

“Orang-orang yang hanya rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka sesungguhnya Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, karena mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan. Hamba Allah yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh, bahkan hingga ajal menjemput,” tandas Ust Sirojul Munir.

Di samping itu, tambahnya, untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa dan ibadah-inadah lainnya sebagaimana yang telah dilakukan dalam bulan ramadhan.

Telah disinggung sebelumnya bahwa di antara tanda diterimanya amal kebaikan seorang hamba bahwa hamba itu meneruskannya dengan amal kebaikan lainnya. Maka bagaimana keadaan kita pasca Ramadhan? Apakah kita telah lulus dari sekolah takwa di bulan Ramadhan? Dan apakah kita termasuk orang-orang yang tetap punya semangat untuk terus bertaubat dan istiqomah pasca Ramadhan?

“Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa menyingsingkan lengan baju mereka, melipat gandakan kesungguhan mereka, dan memperbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, menyusul yang terlewati. Tidaklah Ramadhan berlalu kecuali mereka telah memperoleh bekal yang besar, kedudukan mereka menjadi tinggi di sisi Allah, kedudukan mereka bertambah tinggi di surga dan makin jauh dari neraka. Mereka menyadari sesungguhnya amal shaleh tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan. Mereka selalu puasa enam hari di bulan Syawal, puasa hari Kamis dan Senin serta puasa-puasa lain yang disunahkan. Air mata selalu membasahi pipi mereka di tengah malam, dan di waktu sahur istighfar mereka melebihi orang-orang yang penuh dosa,” harap Ust Sirojul dalam khutbah Idul Fitrinya. (nas).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar