Rabu, 10 Oktober 2018

Krisis Air Pelanggan PDAM Antapani Kidul

Bencana krisis air untuk pelanggan PDAM Tirtawening masih berpotensi melanda wilayah Kota Bandung. Pasalnya, cadangan air baku di Situ Cipanunjang dan Situ Cileunca kembali mengalami penurunan tinggi muka air.
Menurut Kasubid Humas PDAM Tirtawening, Kota Bandung, Muhammad Indra Pribadi, muka air Situ Cipanunjang sudah turun sebanyak 1.680 sentimeter dan Situ Cileunca sebanyak 483 sentimeter dari kondisi normal.

"Tinggi muka air Situ Cipanunjang pada saat normal adalah 144.650 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan tinggi muka air saat ini adalah 142.970 sentimeter di atas permukaan laut. Lalu, tinggi muka air Situ Cileunca pada saat normal adalah 141.850 sentimeter di atas permukaan laut, sedangkan, tinggi muka air saat ini 141.367 sentimeter di atas permukaan laut," ujarnya.

Situ Cipanunjang saat air melimpah

Lebih lanjut Indra menjelaskan, tinggi muka air di Situ Cipanunjang berkurang sekitar 18,46 sentimeter setiap hari. Sementara tinggi muka air Situ Cileunca berkurang 6,2 sentimeter setiap harinya.

"Kemungkinan jika dalam satu bulan ke depan Bandung Raya ini tidak diberikan hujan yang cukup, maka berpotensi PDAM akan kehilangan kapasitas produksi," ujar Indra.

Kapasitas produksi PDAM bisa berkurang sampai 60 persen dari total produksi kapasitas normal. Normalnya, kapasitas produksi air berada di kisaran 2.800 liter per detik."Tentunya iini akan sangat berdampak terhadap pelayanan PDAM Tirtawening Kota Bandung," kata Indra.

Krisis Air PDAM Antapani Kidul
Krisis air PDAM Kota Bandung itu, tentu saja berdampak langsung terhadap krisis air bagi pelanggan PDAM di Antapani Kidul. Di musim kemarau pada awal Oktober ini, debit air dari pompa yang berada di Jajaway rata-rata hanya 3 liter per detik untuk menyuplay pelanggan di RW 10 & RW 15 Antapani Kidul. Padahal dengan kapasitas seperti itu  idealnya hanya mampu untuk menyuplay 300 pelanggan perumahan.

Situ Cipanunjang saat ini

Sedangkan pelanggan yang dilayani saat ini sudah lebih dari 400 pelanggan, tak mengherankan kalau aliran air ke warga pun menjadi kecil  dan tidak tentu waktunya.

Kondisi yang memprihatinkan ini mengundang inisiatif warga RW 10 Antapanai Kidul untuk melakukan pertemuan dengan jajaran PDAM. Hasil pertemuan yang dimotori Ketua DKM Almuhajirin RW-10, Sigit Tjiptono, menghasilkan beberapa solusi, antara lain sebagai berikut:

1. Dengan menyerahkan permintaan tertulis mewakili 5 pelanggan PDAM Tirtawening untuk dikirim air via mobil tanki;

2. Memasang konektor (penyambung/pipa penampung air di 5 titik, yakni di Jl. Dili, Jl. Fak-Fak, Jl. Biak, Jl. Merauke dan Jl. Manokwari), yang akan diisi air via mobil tanki PDAM. Perkiraan terpasang diupayakan dalam bulan Oktober ini.

3. Pemasangan valve alat pembagi/buka tutup air di pipa utama di Jl. Pratista Raya untuk menggilir mengalirnya air ke RW 10 & RW 15 secara bergantian.

Adapun pembagian/penjatahan distribusi air antara RW 10 dengan RW 15 baru bisa dilakukan setelah dipasang valve yg diperkirakan terpasang dlm jangka waktu 1-2 bln (hal ini sudah ada programnya di RKA PDAM 2018).

4.  Pembuatan "mini treatment"/pengolahan air hujan/air sungai dll di lokasi pompa PDAM Jajaway di th 2019 (sdh ada di RKA PDAM 2019) dalam upaya utk menambah produksi air.

5. Usulan Penarikan jaringan baru di Pratista Barat 10 (saat ini blm ada jaringan di lokasi tsb).

6. Rencana PDAM mengajukan ijin ke Kemen ESDM utk mengeksplorasi sumber air sendiri (masih planning).

Demikian info progress terakhir sebagai  ikhtiar kita dalam rangka mengatasi terjadinya krisis air pelanggan PDAM Tirtawening, khususnya di RW 10 dan RW 15 Antapani Kidul. (sumber:tribunjabar & dkmalmuhajirin.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar