Khutbah Idul Adha Al-Muhajirin: Anak durhaka, buah didikan orang tua

Dari khutbah Idul Adha Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani, Imam/Khatib Ustadz Imam Nuryanto.

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ
"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"


Hadirrnya seorang anak ditengah2 keluarga merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Rasanya kurang lengkap apabila pasangan suami istri, walau Allah menganugerahi harta melimpah, namun tak memiliki momongan. Untuk mencapai harapan itu, tak sedikit para  pasangan suami istri menempuh berbagai cara agar dikarunia seorang anak.

Namun setelah anak lahir, dibalik kebahagiaan tentunya memiliki konsekuensi adanya tangung jawab besar bagi orang tua, khsusunya bagi ayah sebagai pemimpin di keluarga, utuk membesarkan anak sekaligus membekalinya dengan ilmu agama.

Allâh Azza wa Jalla mengingatkan kembali bahwa anak-anak bisa menjadi sumber fitnah. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allâh pahala yang besar. [At-Taghâbun/64:15]

Memang benar bahwa anak bukan milik kita, Anak adalah mllik Allah. Kita hanya diberikan amanah titipan dari Allah SWT, karena itu kapan saja Allah bisa mengambil anak yg kita cintai. kita dambakan dan kita tunggu kehadiriannya.

Apa yg dititipi Allah kita harus menjaganya. Jangan sampai titipan anak dalam keadaan fitrah atau suci dikembalikan dalam keadaan kotor penuh kedurhakaan. Diberikan dalam kondisi suci maka sejatinya dikembalikan dalam keadaan suci pula.

Namun demikian, kadang kita sebagai ayah lupa pada tanggung jawab sebagai orang tua. hanya kebutuhan dunia saja yg dipenuhi tanpa tangggung jawab untuk mendidik anak dengan kesholehan dan ketauhidan pada Allah SWT.

Jangan bunuh anak2

Hendaknya para orang tua jangan kalian bunuh anak kalian karena takut miskin. Allah lah yg menjamin rizkinya. tak salah kita cari nafkah tapi setiap anak lahir telah Allah tetapkan rizkinya. Bahkan sampai matipun.

Dalam Surat Al-An'am, ayat 151:

۞ قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).
Dengan demikian jelas lah bahwa Allah lah yg akan menjamin rezeki pada setiap anak. Setiap anak lahir telah ditetapkan rizkinya. Kita sebagai ayah bukan sebagai pemberi rizki. Rizki itu dari Allah, dan  yang menjamin rizki adalah Allah Shubhanahu Wata'ala.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. 



Dalam Surat At-Tahrim Ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ “

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).

Wahai para orang tua,  di pundak kita punya tanggung jawab berat. Jangan sampai keluarga kita, anak2 kita malah menjadi bahan bakar neraka. Naudzubillah tsuma Naudzubillah.

Dalam satu riwayat ketika Rasulullah SAW, menerima seorang utusan bahwa cucunya mengalami sakaratul maut, maka Rasulullah  menyampaikan pada utusan itu bahwa sesungguhnya milik Allah apa yang telah Allah berikan, dan hak Allah pula untuk mengambilnya, kapan saja dan dimana saja. Semuanya telah ada  ketentuan Allah atas rezeki, jodoh dan ajalnya.

Oleh karena itu Kita sebagai Ayah sudah kah kita memeriksa ibadah anak2 kita, memeriksa hafalan bacaan shalatnya, sudah memeriksa dalam menjaga shalat lima waktu, serta  sudah kah shalat berjamaah ke masjid bagi anak laki2. Sudah dekatkah anak2 kita dengan Alquran dan hadist, berapa surat yg sudah dia hafal dan fahami. Atau malah justru kita sendiri yang jauh dari Alquran?

Coba perhatikan anak2 sekarang. Terutama anak SLTP dan SLTA, mereka sudah jarang mengikuti kajian2 di masjid. Alasannya mereka sudah terlalu sibuk, capek, lelah dan telah mengikuti berbagai kursus. Lalu pendidikan macam apa jika seperti ini? boleh jadi mereka pintar tapi, sungguh dalam dadanya, secara ketauhidan mereka hampa dan kosong. Jangan sampai anak2 kita menjadi durhaka karena buah didikan kita sebagai orangtua.

Lalu apakah kita lupa dengan doa2 kita sewaktu mereka lahir? Kita laksanakan aqiqah atau tasyakur bi'nikmah, agar anak kita memiliki kesholehan. Bahkan kita mintakan doa2 kepada para ustadz, kyai, anak2 yatim. Lantas kemana doa2 kita dulu itu?



Hikmah Idul Adha

Idul Adha yang salah satu rangkaiannya ialah ibadah Kurban yang merupakan perwujudan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Melalui ibadah Kurban kita mengenang kembali serta mencoba meneladani perjuangan Nabi Ibrahim As dan putranya Nabi Ismail As.

Adapun di antara keteladanan dari praktik pendidikan keluarga Nabi Ibrahin As ialah karakter kesabaran. Pola pendidikan dalam keluarga Nabi Ibrahim As yaitu bahwa Nabi Ismail As tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya yakni Siti Hajar. Dan Siti Hajar tidak akan menjadi seorang penyabar jika tidak dididik oleh Nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As pun tidak akan dapat sabar jika tidak mendapat bimbingan dari Allah SWT melalui wahyu-Nya.

Keluarga tak ubahnya sebagai sekolah pertama yang menjadi pondasi pokok dalam tumbuh kembang karakter anak. Keteladanan orang tua bagi anak-anaknya sangatlah penting. Karena itulah, orang tua musti menjaga tutur kata dan tindakannya dalam mendidik anak. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim As dalam pendidikan keluarganya.

Gambaran keluarga Nabi Ibrahim ini setidaknya memberikan tiga keteladanan pendidikan karakter penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah SWT dengan menanamkan nilai-nilai ketauhidan dalam setiap anggota keluarga.

Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Dalam hal ini secara tidak langsung Nabi Ibrahim As mengajarkan musyawarah ketika mengambil keputusan dalam keluarga.

Ketiga, pelajaran yang tak kalah penting yaitu menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan.

Jika suatu saat ada perluakuan tidak enak dari anak dari anak2 kita, jangan mudah menuduh sebagai anak durhaka. Bisa jadi karena itu didikan kita yang tidak membawa anak pada ketauhidan dan kesholehan. Bisa jadi itulah hasil kerja kita sebagai orang tua.

Di dunia saja kita bisa perih menerima perlakuan buruk dari anak kita, maka bisa jadi kelak di akhirat akan lebih perih lagi sebagai akiat kita belum bsia menjadi seorang ayah yg baik. Mereka kelak akan menuntut kita. Akibat kita tidak mampu mendidiknya. Itulah buah dari amal diri kita sebagai orang tua. 

Semoga saja kelak ketika kita telah mati, dapat meninggalkan anak2 yang sholeh/sholehah sebagai buah hasil didikan kita selama hidup di dunia. Aamiin Ya Robbal'aalamiiin.

Laporan Ketua DKM

Sementara itu dalam laporannya, Ketua DKM Al-Muhajirin, Sigit Tjiptono, menyampaikan bahwa hewan qurban tahun ini sebanyak 20 (dua puluh) ekor Sapi dan 20 (dua puluh) ekor Kambing. Ini hampir sama dengan jumlah hewan qurban tahun lalu. DKM menyampaikan terima kasih atas kepercayaan para Mudhohi untuk berqurban di DKM Al-Muhajirin.

Disampaikan pula tentang niat DKM Al-Muhajirin untuk membeli tanah yang berlokasi di seberang jalan Masjid Al-Muhajirin, atau berlokasi di Jl Jayapura No.1. Dengan ucapan bismillah, DKM Al-Muhajirin berniat akan membeli dan membangun rumah tahfiz dan Madrasah bagi anak2 yatim/piatu dan anak2 miskin lainnya yang akan dididik, selain ilmu agama, juga keterampilan untuk membekali kehidupannya supaya bisa mandiri.

"Saat ini kami tengah mencari para donatur bagi yang berminat menjadi pewakaf. Dan mohon dibantu pula oleh  Jamaah Al-Muhajirin, untuk mencarikan para donaturnya, in syaa Allah pahalanya sama dengan pewakafnya" tandas Sigit. (*nas)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Promo Perumahan Eksklusif Taman Firdaus

DKM Al-Muhajirin Selenggarakan Shalat Idul Adha 1441-H dan Penitipan Hewan Qurban

Ucapan Terima Kasih dan Serba Serbi Idul Kurban