Mati Zholimin atau Thoyyibin (Bag-3)

Oleh: Usin S. Artyasa

Pembahasan yang lalu diuraikan tentang dua ayat berikut berkaitan dengan kematian setiap manusia. Titik berat dua ayat ini berupa peringatan agar tidak mati kecuali dalam keadaan Muslimin.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، البقرة: 132


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، آل عمران: 102

Dua ayat di atas memuat dua hal yang sangat penting. Satu, peringatan agar kita tidak mati, kecuali dalam keadaan Muslim, melalui kalimat: “lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûna”. Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dua, antisipasi untuk tidak mati, kecuali dalam keadaan Muslim. 

Dengan kata lain, ada kalimat yang menjadi tindakan preventif atau antisipatif. Dua kalimat itu adalah “innallôha isthofâ lakum ad dîn” memilih Islam sebagai agama; dan kalimat “ittaqullôha haqqo tuqôtih”. Mengapa harus memilih Islam sebagai agama atau sistem hidup agar menjadi Muttaqin dan mati dalam keadaan Muslim?

Sebab, titik pusat atau “core value” ajaran Islam terletak pada tauhid. Tanpa tauhid, ketakwaan seseorang tidak mungkin terwujud. Sebab, takwa merupakan hasil akhir dari proses keimanan kepada Allah yang utuh. Jadi, orang kafir tidaklah mungkin menjadi Muttaqin. Simak pertanyaan Allah kepada kaum Kafir berikut.

فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا، المزمل: 17

Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban (QS 73: 17).

Cukup menjadi Muslim dan memilih Islam sebagai identitas agama? Tidak. Setiap Muslim harus terus berikhtiar secara maksimal untuk menjadi Muttaqin. Pengertian takwa, berikut asal usul kata dan karakter Muttaqin sudah dibahas pada bagian kedua—simak kembali pembahasan yang lalu. 

Hal kedua yang harus terus dilakukan adalah oleh setiap Muslim agar kelak kematian menjadi “thoyyibîn” adalah kalimat kedua “ittaqullôh haqqo tuqôtihi”. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Adakah perbedaan antara “taqwa” dan Muttaqîn atau Muttaqûn?

Dalam Al Quran, kata “tattaqûn” atau “yattaqûn” selalu berkaitan dengan iman dan amal sholeh. Sebaliknya, kata “Muttaqîn” atau “Muttaqûn” selalu disebut terakhir yang memberi kesan sebagai kesimpulan, setelah lebih dulu menyebutkan beberapa tabiat atau karakter. 

Dari fenomena ini kita dapat menyimpulkan bahwa “tattaqûn” atau “yattaqûn” menunjuk pada proses perjalanan menuju takwa. Adapun kata kata “Muttaqîn” atau “Muttaqûn” menunjuk pada orang yang berhasil atau mendapatkan gelar dari Allah dengan gelar itu setelah ia beriman dan beramal sholeh.

Untuk lebih jelasnya, kita ambil beberapa contoh ayat, lalu kita bandingkan di antara ayat-ayat yang dimaksud.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، البقرة: 21، وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آَتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، البقرة: 63، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، البقرة: 183، وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، الأنعام: 153

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ، البقرة: 187، وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ، الأنعام: 51، وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ، الأعراف: 156، وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ، طه: 113

Coba kita telaah beberapa ayat di atas, secara singkat (kata “tattaqûn”).

Surat al Baqarah ayat 21 menjadikan “ibadah” (dalam arti luas, dan umum) sebagai alat, sedangkan takwa diharapkan muncul dari ibadah. Dengan kata lain, taqwa akan muncul ke permukaan melalui ibadah yang berkelanjutan. 

Sementara pada surat al Baqarah ayat 63, sikap takwa itu akan didapat setelah berpegang teguh terhadap wahyu Allah (dalam hal ini, untuk sekarang terhadap Al Quran), yang kemudian muncul semangat beribadah. Adapun surat al Baqarah ayat 183, sikap taqwa diharapkan muncul dan tampak jelas di permukaan melalui puasa.

Pada surat al An’am ayat 153, sejatinya sama dengan surat al Baqarah ayat 63, yaitu ajakan untuk berkomitmen pada wahyu Allah. Dengan kata lain, setiap Muslim harus menjadikan Al Quran sebagai sumber referensi utama dalam menjalani kehidupan, dengan segala pernak pernik masalah yang selalu muncul dalam kehidupan. Terkait dengan komitmen untuk menjadikan Al Quran sebagai referensi hidup, apa yang kemudian harus dilakukan?

Kelompok kedua adalah penggunaan kata “yattaqûn”.

Surat al Baqarah ayat 187 sesungguhnya lanjutan ayat sebelumnya tentang proses takwa. Perbedaannya pada orang yang diajak bicara, yang satu berhadapan (orang kedua, kalian, “tattaqûn”); sementara objek atau orang yang diajak bicara tidak hadir alias ghaib, yaitu mereka. Tapi, isinya berkaitan dengan ajakan untuk komitmen dalam pelaksanaan shaum agar bernilai.

Surat al An’am ayat 51 berkaitan dengan ajakan untuk memiliki rasa takut yang sangat kuat terhadap Allah. Sebab, hanya Dia yang layak dan pantas dijadikan wali atau pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ini pun bagian dari amaliah hidup. 

Surat al A’raf ayat 156 merupakan gambaran orang-orang yang mau melaksanakan perintah Allah dalam kehidupan dunia, berikut jaminan adanya “hasanah” (kebaikan) baginya, baik dalam kehidupan dunia ini maupun kelak di akhirat. 

Terakhir, surat Thoha ayat 113 menjelaskan tentang sikap takwa dalam bentuk kekaguman terhadap Al Quran, dan sangat yakin dengan salah satu ulasannya, yaitu “al wa’îdi”, atau hari yang diancaman kepada siapa pun yang enggan bertakwa.

Kesimpulannya, seluruh penggunaan kata “tattaqûn” atau “yattaqûn” dalam Al Quran berkaitan erat dengan proses menjadi takwa atau menuju kepribadian orang yang bertakwa, yang lazim disebut “Muttaqîn” atau “Muttaqûn”. 

Sebagai proses, seseorang sedang berada proses jalan “tattaqûn” atau “yattaqûn” berpeluang gagal. Maka, upaya serius yang harus dilakukan adalah berjuang diri agar menjadi bagian dari “Muttaqîn” atau “Muttaqûn”. Lalu, apa saja karakter yang harus diinstal oleh setiap Muslim agar menjadi pribadi “Muttaqîn” atau “Muttaqûn” itu?

(Bersambung ….)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Promo Perumahan Eksklusif Taman Firdaus

Ucapan Terima Kasih dan Serba Serbi Idul Kurban

Keutamaan membaca shalawat