Jumat, 05 Juni 2020

Ust. Mumu: "Ciri-ciri Orang Bertaqwa"

(Shalat Jum'at perdana berlangsung tertib//foto:dedi)
Alhamdulillah, wa Syukurillah, pelaksanaan Shalat Jum'at munggaran di masa Pandemi Covid-19 telah dapat dilaksanakan di Masjid Al-Muhajirin RW-10 Antapani Kidul dan berjalan dengan sangat baik dan lancar.

Bertindak sebagai Khatib dan Imam untuk pertama kalinya ini diserahkan kepada penasihat DKM Al-Muhajirin, Ustadz Mumu Romli.

Dalam khotbahnya Ust. Mumu, mengupas mengenai citi-ciri orang bertaqwa. Tidak terkecuali ciri-ciri orang yang bisa menerima situasi dan kondisi Pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam khotbahnya Ust. Mumu mengutip Surat Al-baqarah ayat 1 /d 5, sebagai berikut:

الٓمٓ (١) ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ (٢

 ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ
يُنفِقُونَ (٣)
 وَٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ
 وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ (٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (٥

Artinya: “Alif Laam Miim (1); Kitab ini tidak ada yang diragukan, petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2); Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan (3); Mereka juga beriman kepada kitab yang Kami turunkan kepadamu dan yang diturunkan sebelum kamu, mereka juga yakin akan datangnya hari Akhirat (4); Mereka itulah yang berada pada petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang berbahagia”. (5) (Q.S. Al-Baqarah [2]: 1-5)




(Suasana shalat jum"at munggaran masa Pandemi Covid-19//foto:rudi)
Kandungan taqwa

Dalam takwa terkandung cinta, kasih sayang, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan sebagainya. Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal shalih.

Adapun cirri-ciri atau karakteristik orang-orang yang bertaqwa itu adalah:

Beriman kepada yang ghaib

ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡغَيۡبِ

“mereka yang beriman kepada yang gaib”.

Beriman kepada yang ghaib yaitu meyakini adanya wujud di luar jangkauan indera. Orang yang mempunyai keyakinan seperti itu, akan mudah baginya membenarkan adanya Pencipta alam semesta. Dan apabila Rasul menjelaskan adanya alam yang hanya diketahui oleh Allah, seperti, adanya Allah, Malaikat atau Hari Akhir, maka tidaklah sulit baginya membenarkannya, karena telah meyakini kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Yang ghaib, ialah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera, tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, yaitu dua indera yang utama dari kelima (panca) indera kita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal dan iman dalam jiwa. Maka yang pertama sekali ialah percaya kepada Allah, zat yang menciptakan sekalian alam, kemudian itu percaya akan adanya hari kemudian, yaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkitkan dari maut.

Imam Al-Maraghi menyebutkan, orang yang tidak meyakini adanya wujud yang berada di luar jangkauan indera, sulitlah baginya meyakini adanya adanya Pencipta alam semesta, dan amat kecil kemungkinannya menemukan jalan untuk mengajaknya kepada kebenaran.

Iman artinya kepercayaan atau keyakinan yang teguh disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa, atau pengakuan di hati yang membuahkan ketundukkan di lisan (dengan iqrar) dan pada anggota badan. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.



(Menjaga jarak salah satu kunci terhindar dari paparan Covid-19//foto:dedi)

Mendirikan salat

وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ

“dan menegakkan shalat”

Shalat yang dilakukan menurut cara yang telah disyariatkan oleh Islam, merupakan cara yang paling baik untuk mengungkapkan rasa keagungan Allah dan kebutuhan yang amat besar kepada-Nya, jika dilakukan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan, yaitu dilakukan dengan khusyu’ (merendah) dan khudu’ (merunduk), jika dilakukan tanpa khusyu’ dan tanpa khudu’, maka salat tersebut kosong dari ruh, sekalipun bentuk dan caranya sama, telah memenuhi rukun dan syaratnya.

Maka ketika mendirikan shalat harus menghadirkan hati dalam semua bagian-bagiannya, ketika berdiri, ruku, sujud, dan duduk, dan disertai rasa takut kepada azab-Nya serta berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, Allah pencipta alam semesta, seakan-akan melihat-Nya, sekalipun tidak dapat melihat-Nya.

Di dalam hadits disebutkan:

أَنْ تَعْبُدَ اللّهَ كَانَّك تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Artinya: “Hendaklah menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, sekalipun kamu tidak dapat melihat-Nya, tetapi Allah melihatmu”. (H.R. Bukhari).

Maka menegakkan atau mendirikan shalat harus memenuhi dua unsur: unsur ruh salat yaitu khusyu’ dan khudu’, dengan menghadirkan hati dalam semua geraknya, dan unsur tubuh shalat, yaitu: berdiri, ruku’, sujud dan duduk dengan sempurna.

Bahkan Allah memerintahkan agar selalu dilakukan secara berjama’ah (khusus untuk Muslimin), sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٲكِعِينَ

Artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 43).

Demikian halnya, menegakkan shalat yang sempurna adalah yang mampu menjaga seseorang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu mencegah (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”. (Q.S. Al-Ankabut [29] 45).

Karena itu, boleh jadi mereka sudah melakukan shalat, tetapi mengapa akhlqnya masih maksiat dan mungkar? Maka kemungkinan besar mereka tidak melakukannya sesuai dengan petunjuk Allah. Karena itulah Allah mengancam orang-orang yang shalat tapi lalai dari makina shalatnya itu, dengan ancaman yang sangat menakutkan, seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

فَوَيۡلٌ۬ لِّلۡمُصَلِّينَ (٤) ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِہِمۡ سَاهُونَ (٥ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ (٦) وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ (٧

Artinya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna”. (Q.S. Al-Ma’un [107]: 4-7).


Memberikan Infaq

وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ

“dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan”.

Rasyid Ridha menyebutkan, huruf mim yang terdapat pada kalimat min ma razaqnahum, mengandung makna ba’diyah (sebagian). Maka nafkah yang diperintahkan untuk dikeluarkan hanyalah sebagian harta yang dimiliki, tidak semuanya. Yang demikian itu dimaksudkan agar pemberian nafkah itu dilakukan dengan ikhlas, hanya mencari keridaan Allah semata dan karena bersyukur kepada Allah, bukan karena riya’ (pamer) atau mencari popularitas.
Yakin akan adanya Hari Akhir
وَبِٱلۡأَخِرَةِ هُمۡ يُوقِنُونَ

“mereka juga yakin akan datangnya hari Akhirat”.

Yakin ialah pembenaran dengan pasti yang tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun. Maka meyakini adanya kehidupan di Hari Akhir berarti membenarkan dengan pasti adanya surga, neraka, balasan dan sebagainya yang terjadi di hari Akhir kelak.

Jika seseorang masih melakukan atau melanggar larangan-larangan Allah, seperti minum khamr, berzina, mencuri, korupsi, menipu, dan melakukan kejahatan-kejahatan lainnya, maka imannya dan keyakinannya akan adanya Hari Akhir hanyalah khayalan belaka, sebab tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap jiwa dan perilakunya.

Jika orang-orang beriman sudah melaksanakan itu semua, maka mereka berhak memperoleh hidayah dan keberuntungan, yaitu selamat dari siksaan di akhirat, dan dimasukkan ke surga yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman.

Allah melanjutkan dengan ayat:

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَىٰ هُدً۬ى مِّن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Artinya: “Mereka itulah yang berada pada petunjuk Allah dan merekalah orang-orang yang berbahagia”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 1-5).

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa, sehingga selalu mendapat hidayah, ridha dan ampunan Allah. Aamiin Ya Allahu Ya Robbal Alamiin.//** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar