Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Jangan takjub pada amalan

Gambar
Hasan al-Basri seorang Sufi besar melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Kemudian Hasan Al-Basri berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku..!" Tiba-tiba Hasan Basri melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi terus terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir tenggelam. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan. Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata: “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk hanya menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang. Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu berkata padanya: “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol it

Merespon Dua Pesan Ayah

Gambar
Sebelum sang ayah menghembuskan nafas terakhir, dia memberi pesan kepada kedua anaknya : “Anakku, ada dua pesan penting yg ingin ayah sampaikan kepadamu untuk keberhasilan hidupmu, Pertama, jangan pernah menagih piutang kepada siapapun, dan Kedua, jangan pernah tubuhmu terkena terik matahari secara langsung.” Lima tahun berlalu sang ibu menengok anak sulungnya dengan kondisi bisnisnya yg sangat memprihatinkan. Sang ibu pun bertanya “Wahai anak sulungku kenapa kondisi bisnismu demikian?” “Saya mengikuti pesan ayah bu," kata Si Sulung. Pesan Pertama, "Saya dilarang menagih piutang kepada siapapun, sehingga banyak piutang yg tidak dibayar dan lama² habislah modal saya.." Pesan kedua, ayah melarang saya terkena sinar matahari secara langsung dan saya hanya punya sepeda motor, itulah sebabnya pergi dan pulang kantor saya selalu naik taxi.” Kemudian sang ibu pergi ke tempat si bungsu yang keadaannya jauh berbeda. Si bungsu sukses menjalankan bisnisnya. Sang ibu pun bertanya

Mengetahui Posisi Diri dalam Pilpres

Gambar
Kita begitu merasakan bahwa dalam konteks Pilpres 2019 saat ini telah terjadi saling klaim dan pengkotak2an. Satu Muslim di satu pihak mengklaim sebagai "yang benar". Sementara  satu Muslim lainnya dipandang sebagai "yang salah." Ujung2nya saling caci cemooh dengan seenaknya memberi label "Munâfiq” atau bahkan "Kâfir”. Kondisi seperti ini sungguh sangat memprihatinkan kalau tak mau dibilang mengerikan. Pandangan saling hujat itu boleh jadi sudah melebihi hak Allah sebagai Yang Maha Penentu. Berbagai hujjah pun keluar, misalnya siapa saja yang mengucap dua kalimah Syahadatain, maka tidak boleh atau terlarang dikatakan sebagai "Munâfiq” atau "Kâfir” apalagi hanya karena mereka punya cara pandang berbeda dalam dalam pilihan politis terutama dalam masalah memilih pemimpin negara dan daerah. Benarkah demikian…? Mari kita coba telisik lebih dalam... Pertama, Justru di dalam beragama itu kita harus berpihak dan memilih pihak. Itulah yang namanya aqida