Khotbah Jum'at Masjid Almuhajirin Ankid, "Kerusakan Moral dibalik Kearifan Lokal"



بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

Khutbah Jum'at di Masjid Almuhajirin RW-10 Antapani Kidul, tanggal 5 Maret 2021/21 Rajab 1442 H.  Menampilkan Khotib/Imam: Ust Haikal Sya'ban Lc. 

Beliau adalah jamaah masjid Almuhajirin dan merupakan Pengurus inti DKM Almuhajirin RW 10 Antapani Kidul. Ust. Haikal merupakan Lulusan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud. Adapun tema Khutbah menyoal "Kerusakan moral dibalik slogan kearifan lokal"

Beberapa inti khotbah sbb:

Istilah budaya setempat atau kearifan lokal merupakan ujian bagi umat Islam. Misalnya, belum lama ini terbit Lampiran Perpres tentang Investasi Miras, yang menggunakan baju kearifan lokal atau berdalih demi pelestarian budaya yang perlu dijaga. Padahal minuman keras merupakan sumber kerusakan moral. Bahkan dalam hadits, barangsiapa yang meminumnya maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari dan barangsiapa yang mati padahal diperutnya masih ada minuman keras maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. Namun demikian, Alhamdulillah, lampiran perpres itu sudah dicabut kembali.

Selain itu, awal Perbruari, munculnya organisasi Persatuan Dukun Nusantara yang akan membuat festival santet Nusantara yang karena menimbulkan kontroversi, kemudian berubah menjadi festival paranormal Nusantara.
Inipun ujian bagi umat Islam agar tergelincir dalam kesyirikan. Padahal menurut syariat Islam, siapa saja yg datang ke orang pintar atau dukun (walau hanya bertanya saja) maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Dan barangsiapa yang mendatangi dukun serta membenarkan apa yang dikatakan dukun tersebut, maka sungguh dia telah kufur atas apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Islam tidak anti budaya/adat, namun dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat Islam. Contoh budaya Sunda yang menggunakan tuturkata/bahasa halus dan hormat pada orang tua atau orang yang lebih tua, maka itu baik dan bersesuaian dengan syariat Islam. Namun jika bertentangan syariat Islam, maka sudah seharusnya apabila kita menolaknya.

Dalam surat Almaidah, ayat 104:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا اِلٰى مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَاِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

Tipu daya syaiton tidak langsung mengajak pada kekufuran tapi melalui langkah-langkah yang seolah-olah baik. Salah satu langkah jebakan untuk menggelincirkan keimanan kita antara lain melalui baju budaya atau dalih kearifan lokal. Maka kita harus senantiasa waspada atas tipu dayanya.

Uraian rincinya silahkan simak pada channel youtube diatas. Semoga bermanfaat.
Wassalam...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Promo Perumahan Eksklusif Taman Firdaus

Ucapan Terima Kasih dan Serba Serbi Idul Kurban

Kegiatan Idul Qurban 1442H di Masjid Al-Muhajirin Ditinjau Camat Antapani